Halaman

Selasa, 18 Februari 2014

QUOTE STORY 1





Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Sang guru menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.”
~*~
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja dan saat berjalan tidak boleh berbalik. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana. Jadi, tak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi. Jadi, tak kuambil sebatang pun pada akhirnya.”
Gurunya kemudian menjawab, “Jadi, ya itulah cinta.”

Disadur dari  Burhan Shodiq (2010)

Kamis, 13 Februari 2014

Isi(nya) Perut Kelud

Pagi ini kurasa badanku lebih enak dibanding 3 hari kemarin yang terasa meriang dan mulai muncul tanda-tanda flu. Pagi ini ceria dengan suara "nge-bassku".
Kunikmati perjalananku pagi ini penuh gairah. Mencoba meresapi setiap udara yang kuhirup sepanjang jalan. Tak luput olehku, hingga mata bak terjanggal kotoran. Kupikir ini karena aku berada di belakang tepat sebuah truk pengangkut hasil panen.
Entah mengapa dengan tak sengaja ku mengarahkan pandanganku ke bawah tuk melihat setelan seragamku. Hal yang sangat biasa aku lakukan kala di perjalanan tapi kali ini ada yang berbeda. Beda dengan hari kemarin, beda ketika aku bercermin pagi tadi.
Ternyata debu. Iya, debu. Debu yaang mengganggu pemandanganku, bukan truk tadi yang menghasilkannya. Bukan, karena sapuan debu jalanan oleh roda truk yang tepat aku iringi selama perjalanan, melainkan karena aktivitas gunung Kelud yang semakin gencar memuntahkan isi perutnya. Hingga ku sadari ternyata bintik di jaket sedari tadi ini juga karena abu vulkanik gunung Kelud, Kediri.

Senin, 10 Februari 2014

PERBEDAAN TEKS EKSPLANASI, PROSEDUR, DAN EKSPOSISI



MATERI AJAR MEMBEDAKAN
TEKS EKSPLANASI, PROSEDUR, DAN EKSPOSISI

Aspek
Perbedaan
Eksplanasi
Prosedur
Eksposisi
Definisi
Menjelaskan bagaimana terjadinya sesuatu
Menjelaskan bagaimana membuat sesuatu
Menginformasikan sesuatu
Bentuk
1. Bagian awal: pernyataan umum mengenai objek yang akan digambarkan
2. Bagian isi: penjelasan
3. Bagian penutup: berisi informasi tambahan atau bisa juga berupa kesimpulan
1. Pendahuluan: berisi tujuan melakukan/membuat sesuatu
2. Alat dan bahan: alat dan bahan yang diperlukan dan dipersiapkan untuk melakukan sesuatu
3. Langkah-langkah: urutan kerja dalam melakukan/membuat sesuatu
1.   Bagian awal: pernyataan umum yang disertai dengan argument/alasan
2.   Bagian isi: penjelasan argumen
3.   Bagian penutup: berupa kesimpulan

Sabtu, 08 Februari 2014

Rintihan Bulan November



November

Merobek lamunan di petang hari
Menciumi dinginnga senja tak berawan
Memperkosa pikiran melayang
Merangsuk dalam hangatnya tubuh
                    Terbaring,
                    Merebah,
                    Seakan siap
                   Melang-lang dinginnya senja
Jauhlah jauh, enyahlah dari ada
keringnya suka-duka-lara
dangkalnya tuntunanmu
curamnya perbedaan

Selasa, 20 Agustus 2013

Kekerasan Verbal

Kekerasan Verbal
Oleh
Arumsari


Bukan rahasia lagi, anak (baca; peserta didik) mengalami kekerasan. Lalu seperti apakah bentuk kekerasan tersebut? Berbicara mengenai kekerasan yang terjadi di lingkungan rumah atau sekolah acapkali dihubungkan dengan tindakan fisik. Perlu kita pahami bahwa selain kekerasan pada fisik, kekerasan lainnya juga sering terjadi, yakni kekerasan verbal. Verbal berarti secara lisan, maka kekerasan verbal mengacu pada tindakan keras melalui lisan yang tidak beradab, sehingga terdengar tidak santun. Kekerasan verbal yang sering terjadi pada anak berupa ejekan, ancaman, bentakan, dan lain sebagainya, baik itu terjadi di sekolah, rumah maupun masyarakat.
Sebagai contoh Hai, anak rambut keriting! Tuturan tersebut salah satu bentuk kekerasan verbal yang berupa ejekan atau penghinaan. Penutur mungkin tidak menyadari efek yang ditimbulkan. Perlu dipahami bahwa ejekan atau hinaan semacam itu dapat mempengaruhi emosional anak. Reaksi yang ditimbulkan pun berbeda-beda, beberapa anak mungkin hanya memilih diam diperlakukan seperti itu. Akan tetapi, yang ditakutkan adalah apabila ada anak yang turut melakukan kekerasan untuk membalasnya sehingga menyebabkan permasalahan kekerasan verbal tersebut tidak berujung. Kenyataan seperti itu tidak sepatutnya untuk dibiarkan saja, melainkan keluarga dan lembaga pendidikan menjadi tempat meditasi terhadap luka atau kekerasan yang bersemayam atau yang dialami oleh anak.
Kekerasan semacam itu sering ditemui di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Mengutip dari hasil penelitian Bappenas tahun 2011 yang menunjukkan bahwa sebanyak 80% guru di Indonesia melakukan kekerasan verbal terhadap anak didiknya. Hal tersebut turut memperparah keadaan pendidikan di Indonesia. Tidak sepatutnya anak didik sebagai pemuda penerus bangsa diberi umpatan, penghinaan, perkataan kasar (sarkasme), dan lain sebagainya.
Memahami fenomena demikian, seringkali terjadinya kekerasan verbal turut membawa pengaruh dalam pribadi korban. Akibat yang ditimbulkan dari kekerasan tersebut, misalnya anak turut menjadi orang yang suka mengejek, mengumpat, atau yang lain yang nantinya terbawa ke luar dalam pergaulan. Artinya, anak yang mendapat caci maki, ejekan, atau  perkataan kasar dapat saja ditirunya ke lingkungan. Hal tersebut menjadi hal yang mengkhawatirkan dan perlu mendapatkan penanganan. Efek lain yang ditimbulkan, yakni tidak percaya diri atau merasa terasingkan oleh lingkungan karena sering diejek, dicaci maki dengan bahasa yang kasar.
Meminjam istilah BERPIKIR dari Fajar S. Roekminto (Dosen UKI), yakni ada beberapa cara untuk mengatasi kekerasan verbal pada anak. Salah satu upaya untuk meredamkan anak yang terserang kekerasan verbal. Menurut penjelasannya, BERPIKIR artinya: 
Berusaha mengenali sendiri, 
Empati kepada anak,  
Rasakan bagaimana perasaan anak,  
Pergunakan kalimat yang humoris, 
Kekerasan disebabkan oleh beberapa faktor,  
Integrasikan perasaan cinta dengan amarah dalam pikiran, 
Kenali tubuh saat marah, 
Izinkan telinga untuk mendengar suara anak, dan 
Rajin mencari informasi mengenai mendidik anak.
Tentunya, upaya seperti di atas memerlukan perhatian dan partisipasi yang besar, baik itu dari keluarga maupun tenaga pendidik di lingkungan sekolah. Dengan harapan mampu menerapkan cara tersebut dengan sebaik-baiknya dan membantu anak dalam mengembalikan kepercayaan diri dan menumbuhkembangkan kepribadian yang berkarakter.