Halaman

Selasa, 20 Agustus 2013

Kekerasan Verbal

Kekerasan Verbal
Oleh
Arumsari


Bukan rahasia lagi, anak (baca; peserta didik) mengalami kekerasan. Lalu seperti apakah bentuk kekerasan tersebut? Berbicara mengenai kekerasan yang terjadi di lingkungan rumah atau sekolah acapkali dihubungkan dengan tindakan fisik. Perlu kita pahami bahwa selain kekerasan pada fisik, kekerasan lainnya juga sering terjadi, yakni kekerasan verbal. Verbal berarti secara lisan, maka kekerasan verbal mengacu pada tindakan keras melalui lisan yang tidak beradab, sehingga terdengar tidak santun. Kekerasan verbal yang sering terjadi pada anak berupa ejekan, ancaman, bentakan, dan lain sebagainya, baik itu terjadi di sekolah, rumah maupun masyarakat.
Sebagai contoh Hai, anak rambut keriting! Tuturan tersebut salah satu bentuk kekerasan verbal yang berupa ejekan atau penghinaan. Penutur mungkin tidak menyadari efek yang ditimbulkan. Perlu dipahami bahwa ejekan atau hinaan semacam itu dapat mempengaruhi emosional anak. Reaksi yang ditimbulkan pun berbeda-beda, beberapa anak mungkin hanya memilih diam diperlakukan seperti itu. Akan tetapi, yang ditakutkan adalah apabila ada anak yang turut melakukan kekerasan untuk membalasnya sehingga menyebabkan permasalahan kekerasan verbal tersebut tidak berujung. Kenyataan seperti itu tidak sepatutnya untuk dibiarkan saja, melainkan keluarga dan lembaga pendidikan menjadi tempat meditasi terhadap luka atau kekerasan yang bersemayam atau yang dialami oleh anak.
Kekerasan semacam itu sering ditemui di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Mengutip dari hasil penelitian Bappenas tahun 2011 yang menunjukkan bahwa sebanyak 80% guru di Indonesia melakukan kekerasan verbal terhadap anak didiknya. Hal tersebut turut memperparah keadaan pendidikan di Indonesia. Tidak sepatutnya anak didik sebagai pemuda penerus bangsa diberi umpatan, penghinaan, perkataan kasar (sarkasme), dan lain sebagainya.
Memahami fenomena demikian, seringkali terjadinya kekerasan verbal turut membawa pengaruh dalam pribadi korban. Akibat yang ditimbulkan dari kekerasan tersebut, misalnya anak turut menjadi orang yang suka mengejek, mengumpat, atau yang lain yang nantinya terbawa ke luar dalam pergaulan. Artinya, anak yang mendapat caci maki, ejekan, atau  perkataan kasar dapat saja ditirunya ke lingkungan. Hal tersebut menjadi hal yang mengkhawatirkan dan perlu mendapatkan penanganan. Efek lain yang ditimbulkan, yakni tidak percaya diri atau merasa terasingkan oleh lingkungan karena sering diejek, dicaci maki dengan bahasa yang kasar.
Meminjam istilah BERPIKIR dari Fajar S. Roekminto (Dosen UKI), yakni ada beberapa cara untuk mengatasi kekerasan verbal pada anak. Salah satu upaya untuk meredamkan anak yang terserang kekerasan verbal. Menurut penjelasannya, BERPIKIR artinya: 
Berusaha mengenali sendiri, 
Empati kepada anak,  
Rasakan bagaimana perasaan anak,  
Pergunakan kalimat yang humoris, 
Kekerasan disebabkan oleh beberapa faktor,  
Integrasikan perasaan cinta dengan amarah dalam pikiran, 
Kenali tubuh saat marah, 
Izinkan telinga untuk mendengar suara anak, dan 
Rajin mencari informasi mengenai mendidik anak.
Tentunya, upaya seperti di atas memerlukan perhatian dan partisipasi yang besar, baik itu dari keluarga maupun tenaga pendidik di lingkungan sekolah. Dengan harapan mampu menerapkan cara tersebut dengan sebaik-baiknya dan membantu anak dalam mengembalikan kepercayaan diri dan menumbuhkembangkan kepribadian yang berkarakter.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar