Kekerasan Verbal
Oleh
Arumsari
Bukan rahasia lagi, anak (baca; peserta didik) mengalami
kekerasan. Lalu seperti apakah bentuk kekerasan tersebut? Berbicara mengenai
kekerasan yang terjadi di lingkungan rumah atau sekolah acapkali dihubungkan dengan
tindakan fisik. Perlu kita pahami bahwa selain kekerasan pada fisik, kekerasan
lainnya juga sering terjadi, yakni kekerasan verbal. Verbal berarti secara lisan,
maka kekerasan verbal mengacu pada tindakan keras melalui lisan yang tidak
beradab, sehingga terdengar tidak santun. Kekerasan verbal yang sering terjadi
pada anak berupa ejekan, ancaman, bentakan, dan lain sebagainya, baik itu
terjadi di sekolah, rumah maupun masyarakat.
Sebagai contoh Hai,
anak rambut keriting! Tuturan tersebut salah satu bentuk kekerasan verbal
yang berupa ejekan atau penghinaan. Penutur mungkin tidak menyadari efek yang
ditimbulkan. Perlu dipahami bahwa ejekan atau hinaan semacam itu dapat mempengaruhi
emosional anak. Reaksi yang ditimbulkan pun berbeda-beda, beberapa anak mungkin
hanya memilih diam diperlakukan seperti itu. Akan tetapi, yang ditakutkan
adalah apabila ada anak yang turut melakukan kekerasan untuk membalasnya
sehingga menyebabkan permasalahan kekerasan verbal tersebut tidak berujung.
Kenyataan seperti itu tidak sepatutnya untuk dibiarkan saja, melainkan keluarga
dan lembaga pendidikan menjadi tempat meditasi terhadap luka atau kekerasan
yang bersemayam atau yang dialami oleh anak.
Kekerasan semacam itu sering ditemui di sekolah-sekolah di
seluruh Indonesia. Mengutip dari hasil penelitian Bappenas tahun 2011 yang
menunjukkan bahwa sebanyak 80% guru di Indonesia melakukan kekerasan verbal
terhadap anak didiknya. Hal tersebut turut memperparah keadaan pendidikan di
Indonesia. Tidak sepatutnya anak didik sebagai pemuda penerus bangsa diberi
umpatan, penghinaan, perkataan kasar (sarkasme), dan lain sebagainya.
Memahami fenomena demikian, seringkali terjadinya kekerasan
verbal turut membawa pengaruh dalam pribadi korban. Akibat yang ditimbulkan
dari kekerasan tersebut, misalnya anak turut menjadi orang yang suka mengejek,
mengumpat, atau yang lain yang nantinya terbawa ke luar dalam pergaulan.
Artinya, anak yang mendapat caci maki, ejekan, atau perkataan kasar dapat saja ditirunya ke
lingkungan. Hal tersebut menjadi hal yang mengkhawatirkan dan perlu mendapatkan
penanganan. Efek lain yang ditimbulkan, yakni tidak percaya diri atau merasa
terasingkan oleh lingkungan karena sering diejek, dicaci maki dengan bahasa
yang kasar.
Meminjam istilah BERPIKIR dari Fajar S. Roekminto (Dosen
UKI), yakni ada beberapa cara untuk mengatasi kekerasan verbal pada anak. Salah
satu upaya untuk meredamkan anak yang terserang kekerasan verbal. Menurut
penjelasannya, BERPIKIR artinya:
Berusaha
mengenali sendiri,
Empati kepada
anak,
Rasakan bagaimana perasaan
anak,
Pergunakan kalimat yang
humoris,
Kekerasan disebabkan oleh
beberapa faktor,
Integrasikan
perasaan cinta dengan amarah dalam pikiran,
Kenali
tubuh saat marah,
Izinkan telinga
untuk mendengar suara anak, dan
Rajin
mencari informasi mengenai mendidik anak.
Tentunya, upaya seperti di atas memerlukan perhatian dan
partisipasi yang besar, baik itu dari keluarga maupun tenaga pendidik di
lingkungan sekolah. Dengan harapan mampu menerapkan cara tersebut dengan
sebaik-baiknya dan membantu anak dalam mengembalikan kepercayaan diri dan
menumbuhkembangkan kepribadian yang berkarakter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar